Minggu, 14 Agustus 2011

RESENSI "catatan akhir sekolah"

Judul Film  :     Catatan Akhir Sekolah

Sutradara   :     Hanung Bramantyo

Penulis        :     Salman Aristo

Pemeran      :    Ramon Y. Tungka, Vino G. Bastian, Marcel Chandrawinata, Joanna Alexandra, Christian Sugiono

Produksi     :    Rexinema, Jakarta 2005

Jenis Film   :    Drama



RESENSI

          Film yang diproduksi tahun 2005 oleh Rexinema ini, sukses disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Seorang sutradara muda berbakat yang terkenal piawai dalam menyutradarai dan memproduseri film-film bertema religi. Sementara Ramon Y. Tungka, Vino G. Bastian dan Marcel Chandrawinata, adalah tiga orang aktor muda yang memerankan tokoh remaja SMA dalam film ini dengan baik.

Film ini berkisah tentang tiga orang remaja yang telah duduk di kelas 3 SMA. Mereka adalah remaja-remaja yang biasa yang tidak terlalu menonjol di sekolah itu. Berkeinginan untuk dikenal oleh segenap penghuni sekolah, ketiga anak ini yaitu, Agni (Ramon Y. Tungka), Arian (Vino G. Bastian) dan Alde (Marcel Chandrawinata) akhirnya punya rencana untuk membuat sebuah film dokumenter berisi kejadian sehari-hari yang terjadi disekolah mereka tercinta, untuk ditayangkan di acara pentas seni sekolah mereka di akhir tahun. Tujuannya tentu untuk kenangan masa-masa SMA yang tidak dapat terulang kedua kalinya. Berbagai peristiwa sehari-hari yang biasanya terjadi disekolah, pada teman-teman mereka, menjadi objek dari film dokumenter yang mereka buat.

Mereka bersahabat sejak mereka kelas 1 SMA, hingga kini mereka kelas 3 SMA. Agni(Ramon Y. Tungka) adalah anggota klub film sekolah, setiap menampilkan film pendeknya kepada para anggota, filmnya selalu ditolak oleh anggota yang lain. Alde(Marcel Chandrawinata) anak orang kaya yang aktif di ekstrakurikuler band, banyak wanita yang tergila-gila padanya. Sedangkan Arian(Vino G. Bastian) adalah anggota ekstrakurikuler mading sekolah, namun hanya menjabat sebagai pemegang kunci mading.

Sebelum mendapatkan ide untuk membuat film dokumenter ini. Arian selaku anggota mading sekolah mempunyai rencana untuk membuat buku tahunan yang berbeda dari biasanya. Tetapi jalannya untuk membuat buku tahunan itu tidak ada yang mendukung. Ide membuat film dokumenter ini adalah dari Agni yang pada dasarnya anggota klub film. Pembuatan film dokumenter ini didukung dengan adanya Agni sebagai orang yang mengerti dunia film, Arian yang sebagai pemegang kunci mading sebenarnya mempunyai bakat dalam penulisan. Sedangkan, Alde yang mempunyai banyak penggemar wanita, penggemarnya itu dapat dimanfaatkan untuk membawa handycam, karena mereka pernah tertangkap oleh kepala sekolah karena sudah membawa handycam.

Dalam proses pembuatan film dokumenter ini, banyak halangan yang ditempuh. Seperti skenario yang tidak dibuat oleh Arian. Agni yang masih memendam perasaan kepada mantan pacarnya, Alina (Joanna Alexandra), kini mulai mendekatinya lagi. Sedangkan Alina kini telah menjalin kasih dengan Ray (Christian Sugiono), walau Alina sering kali dikasari oleh Ray. Agni yang sibuk dengan masalahnya dan Arian beserta skenarionya yang belum terselesaikan atau bahkan tidak dikerjakan membuat, Alde berusaha sendiri untuk dapat menyelesaikan film itu. Ketika mengetahui Alde berusaha sendiri menyelesaikan film itu dan mendapat kecelakaan ketika mengerjakan film itu, Agni dan Arian pun akhirnya kembali menyelesaikan film itu hingga selesai. Disamping Agni yang masih mengharapkan Alina, Alde juga memendam rasa pada sahabat Alina yang bernama Ratih, namun Alde tidak berani mengungkapkan perasaanya karena Ratih adalah anak pedagang Somay dikantin sekolah.

Acara pensi pun terlaksanakan juga dan film dokumenter yang mereka buat pun akhirnya  ditampilkan. Tentu saja hal itu menuai berbagai reaksi dari siswa-siswi sekolah mereka. Berbagai kejutan tak terduga pada film dokumenter tersebut. Disela film dokumenter itu ternyata ada cuplikan dimana kepala sekolah mereka melakukan jual-beli nilai antar kepala sekolah dengan orang tua murid. Kejadian itu ternyata terjadi ketika handycam mereka disita oleh kepala sekolah yang masih dalam keadaan terekam. Akhirnya kepala sekolah beserta asisten diserahkan pada pihak yang berwajib. Film dokumenter yang Agni,Arian dan Alde buat berhasil menarik perhatian dari semua penghuni sekolah.

Film Catatan Akhir Sekolah ini layak untuk ditonton remaja-remaja sekarang. Hal ini berkaitan dengan tema filmnya yang sangat membumi. Segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupan remaja Indonesia sehari-hari misalnya, masalah percintaan dan masalah sekolah yang masih mengandalkan uang untuk menyelesaikan segala masalah yang ada pada murid. Hadirnya film ini diharapakan dapat membuat remaja-remaja Indonesia lebih kreatif dalam menunjukan tanda cintanya pada sekolah.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar